Kamis, 23 Juli 2020

NASIB MALANG, HIPOTERMIA SAAT PILIH KAMPUS


Berawal dari ngefans gitaris DEWA 19, Andra Ramadhan, selain dia memiliki pribadi kalem, pendiam, pintar, rajin shalat, wajah manis tidak tindik telinga, tidak bertato dan terakhir dia bukan perokok, tentulah sangat menginspirasi aku saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP (tahun 2003 waktu itu).

Sampai tibalah saatnya cinta-cintaan monyet, dimulai kelas 3 SMP, ada yang naksir aku mulai dari sahabat cowok sendiri sampai teman satu kelas, pokoknya dia bukan perokok aja, uda klepek-klepek hatiku.

Ya, sahabatku cowok pun berhasil mendekatiku, pendaftaran masuk di SMAN 2 dia pun ikut, bimbingan belajar, dia pun sama denganku, kita bimbel di Malang, tetapi beda tempat bimbelnya. Aku di Universitas Negeri Malang (UNM), dia di Universitas Brawijaya (UB).

Saat bimbel dengan sahabat SMA, Irma, aku jatuh sakit karena tidak tahan udara Kota Malang yang menurutku dingin. Berbeda dengan kota asalku, daerah pesisir pantai tergolong panas. Saat Irma belajar dengan seriusnya di kamar yang sama denganku, kami kos berdua di sekitar UNM setelah sehari sebelumnya diantar orang tuaku.

“Mi ndak belajar?” tanya Irma.
Dia memanggilku sebutan mi karena melihat aku memanggil mamaku dengan sebutan mami, jadi inginnya Irma diibaratkan anakku, hahaha…..
Aku sendiri kala itu memanggilnya dengan sebutan, mbak. Karena melihat dia dipanggil orang tuanya, mbak, hihihi…..
“Ndak mbak, aku kademen, sumpah ndak kuat aku,” jawabku dibalik selimut menggigil.
“Lha terus, kalo sampeyan ndak lulus ujian seleksi mahasiswa UB, piye?” tanyanya lagi heran.
“Ndak popo mbak, aku wes ndak gelem kuliah nang Malang, aku kuliah nang Suroboyo ae,” jawabku kecewa.

Memang sebelum kelulusan SMA aku dulu berangan-angan ingin melanjutkan studi S1 di Malang. Sangat cinta sekali dengan kota itu. Mungkin disana pernah aku didekatin masnya temanku (cewek), dia kuliah di UB Malang juga.
Masnya temanku naksir aku, tetapi karena aku adalah temannya adeknya, dia hanya menjadi teman dekatku tidak sampai pacaran.
Perasaanku waktu itu pada mas temanku, biasa saja, suka hanya sebatas menemaniku karena aku tidak mau kesepian. Biasalah yaa, anak remaja maunya jalan-jalan terus.

Terjadilah aku berambisi untuk melanjutkan kuliah di Malang, agar aku dekat dengan dia, UB.
Sedangkan dalam percakapanku dengan mas kandungku yang saat itu semester akhir jurusan teknik arsitektur UPN Veteran Surabaya selalu dengan ambisinya mempengaruhiku agar aku kuliah di UPNV Surabaya juga.
Dengan pertimbangan jika kita bisa kuliah bersama di Surabaya apalagi di kampus yang sama, tentu memudahkan orang tua yang ingin menjenguk anak-anaknya.
“Kuliah nang Suroboyo ae, dek!,” ucap mas Eka di depan papiku.
“Ndak, Malang pokok’ e,” elakku mantap.
“Wooo… iki…. Ben papi mami enak lho lek ate nang Suroboyo. Iso sambaing anak dua sekaligus, aku sama kamu,” yakin masku lagi.
“Nehik, Malang. Aku kuliah di Malang aja lho pap, pokoknya pengen Malang. Papi kan dulu kuliah di UB, aku pengen di UB juga pap,” ucapku tetap mengelak.
“Mosok papi ape riwa riwi Malang-Suroboyo, bingung saiki jatah e Eka opo Rani, saaken lho,” masku dengan menggebunya.
Betul, sering sekali papi melakukan perjalanan dinas ke Kota Pahlawan untuk rapat-rapat, sosialisasi, kunker, dan sebagainya.
Ya, memang orang tuaku tidak pernah memaksakan kehendak anak-anaknya, mereka hanya mengarahkan saja apa yang menjadi keinginan anak-anaknya.
“Wes Jon, Rani ben kuliah nang Malang,” ucap papi mengiyakanku, Jon sebutan papi pada masku, Eka Sarjono.
Mungkin waktu itu masku kesel juga kali yaa, karena keinginannya agar aku mengikuti kuliah di Surabaya, terelakkan. Hahaha….

Nah, balik ke bimbel, jadi selama aku bimbel di Malang setiap harinya gak pernah belajar. Uda aku niati, enggak lulus UB yo wes, ben. Hihihi….
“Mi, gak maghriban?. Ayo golek maem,” selesai Irma menunaikan sholat maghrib.
“Lho iyo mbak, maghriban, sek iki aku kademen. Ta sholat disek yaa, biz gitu kita cari maem,” jawabku layu.
Penuh perjuangan aku ambil wudlu di kamar mandi, maklum tiap sore aku tidak pernah mandi. Hanya gosok gigi dan bersih-bersih wajah. Irmapun memakluminya, setelah aku cerita tidak pernah mandi sore.
Mungkin daripada aku semakin hipotermia, mati kaku, akhirnya Irma angguk-angguk kepala memaklumi. Hehehe…..

Yup, selesai kami sholat maghrib berdua berjalan ke luar cari makan. Setelah pamitan ke ibu kos, kami melewati pinggiran jalan belakang kampus UNM.
Sampai di jalan utama depan Matos, secepat mungkin kami kembali berjalan balik melewati pinggiran jalan belakang kampus UNM.
Seandainya kalau aku tidak sakit kedinginan waktu itu, mungkin kami malah main-main aja tuh di Matos, waduuuhhh……

Perjalanan pulang beli makan, aku menuju arah kos bimbel, berlawanan arah sekitar 200 meter dua orang cowok, tinggi banget satunya tinggi standart cowok, agak menerka-nerka kami berempat.
“Lho mbak, iku Oscar mbek Dodik, ta?,” tanyaku.
“Lho iyo Mi, koyo’e Oscar-Dodik,” terka Irma juga.
Di arah berlawanan yang semakin dekat juga mereka menerka.
Maklum kami berempat asli Probolinggo tiba di kota tetangga tanpa ada saudara dan keluarga, tetiba ketemu di jalan berasa bahagia anak perantauan waktu itu.
“Heh, Yus!” sapa Oscar panggilan sahabat sejak SMPN 2, aku dipanggil Yustise oleh 8 orang sahabat.
Widji, Yatik, Wiwit, Puput, Oscar, Dodik, Dicky dan aku menamakan kami Star Love sebagai nama sahabat.
“Ya ampun Oscar Dodik, kita ketemu juga yaa disini, aku sakit Os,” ucapku girang bertemu dengannya.
“Kamu sakit apa, Yus?”, Tanya Oscar kaget.
“Kedinginan aku, Os,” sambil melihat penampilanku memakai jaket hitam pas body, celana tujuh per delapan, kaos kaki dan memakai sepatu sandal.
“Iyo iki mami ndak gelem sinau,” ucap Irma putus asa.
“Lho, ndak lulus kamu Yus engkok,” ucap Dodik tertawa-tawa.
“Ngekos ndek ndi?” Tanya Oscar serasa dia ingin mampir mengantarku balik.
“Kalian ndak cari makan ta?, itu kosanku ndek sana,” ucapku masih lumayan jauh dari kos bimbel ke jalan utama Matos.
“Ayo ta anterin,” ucap Oscar lagi.
Dengan senang hati kami balik menjadi berempat.
Sesampai di kos, Oscar dan Dodik duduk di pintu depan pagar garasi.
Aku dan Irma makan disana, sedang Oscar dan Dodik hanya minum.
Obrolan-obrolan kami tertuang kurang lebih dua jam, sampai mereka lupa mau beli makan juga.
Keduanya pun berpamitan. Makan malam yang telat, kami pun tertawa, hahaha……
Singkat cerita, Oscar kuliah di UB, Irma di UMM, Dodik STIE Perbanas Surabaya dan aku UPNV Surabaya.
Kesuksesan kami berjalan saat kami sudah melewati masa-masa pelajar, kini Oscar bekerja sebagai Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB Bidang Tata Kelola Sektor Publik, Dodik bekerja sebagai karyawan tetap Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kota Probolinggo dan Irma bekerja sebagai ASN di Disnakertrans Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

pernah suatu hari, saat aku pulang dari bimbel, dengan sedikit rasa cemburu, aku letakkan pada mbak iparku dulu yang masih menjadi pacar masku.
Ya, saat adeknya sakit kedinginan, kakakku menjenguk dengan pacarnya (sebelum pacaran dengan mbak ipar, aku lah mak comblang mereka). Dibelani  oleh masku perjalanan dari Surabaya hanya ingin waktunya untuk mbak ipar.
Kesannya masku seperti bersorak sorai melihat kondisiku, sakit kedinginan.
“Yok opo? Sek kepengen kuliah ndek kene (Malang) ta?,” tanyanya saat mampir di UNM.
Di parkiran motor aku dan Irma lelah usai melaksanakan bimbel hari pertama.
“Dewa sakit mas, ndak pernah sinau, ndak pernah mandi sore,” jawab Irma.
Sebutan saat aku di SMA berubah dari Dewi menjadi DEWA, ya karena aku fans berat DEWA.
“Aku kuliah nang Suroboyo, ae. Adem ndek sini, ndak kuat aku, enak Suroboyo panas podo mbek Probolinggo,” ucapku.
“Kandani kok, tambenng!!!” jawab masku mantap.
Sedang mbak ipar saat itu senyum-senyum dan tertawa-tawa.
Semakin pegel saja ini hati, mas datang tapi untuk pacarnya, bukan untuk adeknya. Padahal yang ngenalin mereka aku. Huh, sebel….. hahahhaa…..
Hari terakhir usai bimbel (lupa berapa hari aku bertahan di Malang untuk bimbel), langsung aku dan Irma dijemput Omku naik mobil berisi mbah Jum, Budhe Titin, Om Dedi. Mereka adalah ibu, kakak perempuan dan adek ipar mamiku.
“Iyo nduk lek ndak kuat di hawa dingin, kayak kamu, sakit,” mbah Jum membenarkan.
“Aku kuliah di Surabaya saja mbah,” ucapku.

Mulai detik itu, pikiranku berubah total. Aku mau kuliah di Surabaya.
Obrolan seusai bimbel pun terjadi (lagi).
Ya, usai lulus SMA aku seminggu pernah main di rumah bulek adek perempuan papi di daerah Buduran Sidoarjo. Selama seminggu di sana, aku menikmati suasana Sidoarjo. Diajak saudara sepupuku cowok, jalan-jalan ke sun city, GOR Delta, alun-alun, makan bakso di bawah jembatan layang Buduran, semua aku lewati tanpa ada halangan yang berarti. (baca: kedinginan) hahaha….
Aku merasakan udara Sidoarjo dan Surabaya cenderung sama seperti Kota Probolinggo, panas.
“Kuliah di UPN ae nduk, kumpul mbek mas Eka,” bulekku mengucapkan saat kami menikmati camilan sore.
“Dek Erik mo kuliah teng pundi, lek?” tanyaku.
Erik adalah anak kedua bulek Sri Bayatmi, seperti Ari Wibowo di keluarga besar kami mengibaratkan wajahnya. Memang Erik cowok ganteng, tinggi, tidak perokok, rajin sholat, baik, tapi pemalu. Erik seumuran denganku.
“Yo kalo ndak lulus SPMB, lek daftarkan nok UPN,” jelas bulekku.
“Aku mau kuliah sing kampuse akeh Chinese-chinese lek,” jawabku.
“Minta ke papimu, ndek Suroboyo onok Petra dan UBAYA, mbois iku nduk,” bulekku diamini anak perempuannya, adek Wiwit yang saat itu juga semester akhir jurusan sain biologi UNESA.
Singkat kata saat masku main dan melihat kondisiku di rumah bulek Buduran Sidoarjo bilang,
“Dek Rani iki kademen lek teng Malang pas ikut bimbel, dia pengen kuliah di Surabaya,” masku buka kartuku. Hahaha….
Semua warga serumah bulek ikut tertawa, tak terkecuali lek Gatot suami lek Bayat yang masih dinas di Angkatan Laut Surabaya.
“Iyo iki Rani pengen kuliah nang kampus Cino,” ujar lek Gatot.
“Neh aneh ae….. larang,” masku tertawa ngakak.
“Lho iyo ta, mahal ta??? Mosok seh???,” jawabku tidak yakin 1000%. Hahaha…..
Singkat cerita aku berkeinginan untuk kuliah di UK Petra atau UBAYA sesuai petunjuk bulek Bayat. Maklum tahun 2004 Thomas Cup waktu itu aku begitu ngefans dengan jagoan Cina, asal olahraga teplok bulu itu. Sebut saja ada ganda pria Fu Hai Feng dan Cay Yun, tunggal pria Lin Dan, Bao Cun Lai, tunggal wanita Xie Xing Fang, sampai akupun saat main bulu tangkis di depan rumahku, jalan gang (lapangan outdoor) teman-teman rumahku menyebutku Xie Xing Fang.

Sepulang dari rumah bulek Bayat di Buduran Sidoarjo, lagi-lagi obrolan kampus pun terjadi (lagi). “Pap, papi, aku kuliah di UK Petra atau UBAYA yaa pap,” ucapku semangat penuh optimis.
“UPN ae nduk, bareng sama mas Eka,” jawab papiku yang mendapat respon iya dari masku yang sedari ngobrol kampus dari pertama, kedua sampai ketiga kalinya selalu ada dia dan dia. Hahaha….
“Iya wes aku kuliah di UPN, pokok aku ndak mau sing ada hitung-hitungannya,” jawabku tetap semangat. Mengingat bakal kuliah di Malang, aku KO.
“Kamu iki aneh, ndi onok kuliah ndak onok itung-itungan e??? koncoku sing kuliah ndek komunikasi yo onok itung-itungan e,” jawab masku.
“Konco e sampeyan onok sing ndek komunikasi?, konco opo,? Tanyaku.
“KKN,” jawab masku singkat.
“Pap, papi, pokoknya aku ndak mau yang ada hitung-hitungan,” jelasku.
“Lha kamu SMA biyen yok opo? IPS lak itung-itungan seh? Ekonomi metrik, akuntansi, lak tung itungan iku?,” kata Masku yang berzodiac scorpio sama dengan aku itu.
“Pas aku SMA, lek ujian ekonomi, akuntansi yo q nyontek nang Irma,” jawabku menjelaskan Irma adalah teman sebangku saat kelas 3 SMA.
memang aku nyontek tapi gak semuanya lha yaaa.... intinya banyak nyonteknya, hahahaaa.....

“Sek yo ta telpon o Ina, arek komunikasi,” masku mulai beraksi.
Sembari menunggu masku telepon Ina, kami cukup mendengarkan.
“Jare Ina nok Komunikasi yo tetep onok itung-itungan e, tapi iku dasar, semester- semester selanjut e gak onok. Kan iku digawe hitung-hitungan e skripsi,” jelas masku.
“Yo wes Jon, ndang golekno brosur-brosur komunikasi, Jon,” ucap papiku yang mantap agar aku kuliah di jurusan komunikasi.
“Asssseeekkk…. Yo mau aku, komunikasi ae wes,” setujuku.
“Nah ngunu kan enak, ndak ngebet kuliah nang Malang garai papi mami bingung berkunjung anak-anak e,” sumringah masku.
“Wooooo……. Pancen kudu ngene, kademen disik, sakit, baru ndak gelem kuliah nang Malang,” ujarku disambut tertawa ngakak abang Bon Sak, julukan pebulu tangkis tunggal Tailand 2004 silam.
“Pancen neh aneh ae kamu,” tetap ngakak abang Bon Sak. Hihihihiiii…..
“Suroboyo, I’m cooooommmiiiinnngggg,” teriakku.