Kamis, 23 Juli 2020

NASIB MALANG, HIPOTERMIA SAAT PILIH KAMPUS


Berawal dari ngefans gitaris DEWA 19, Andra Ramadhan, selain dia memiliki pribadi kalem, pendiam, pintar, rajin shalat, wajah manis tidak tindik telinga, tidak bertato dan terakhir dia bukan perokok, tentulah sangat menginspirasi aku saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP (tahun 2003 waktu itu).

Sampai tibalah saatnya cinta-cintaan monyet, dimulai kelas 3 SMP, ada yang naksir aku mulai dari sahabat cowok sendiri sampai teman satu kelas, pokoknya dia bukan perokok aja, uda klepek-klepek hatiku.

Ya, sahabatku cowok pun berhasil mendekatiku, pendaftaran masuk di SMAN 2 dia pun ikut, bimbingan belajar, dia pun sama denganku, kita bimbel di Malang, tetapi beda tempat bimbelnya. Aku di Universitas Negeri Malang (UNM), dia di Universitas Brawijaya (UB).

Saat bimbel dengan sahabat SMA, Irma, aku jatuh sakit karena tidak tahan udara Kota Malang yang menurutku dingin. Berbeda dengan kota asalku, daerah pesisir pantai tergolong panas. Saat Irma belajar dengan seriusnya di kamar yang sama denganku, kami kos berdua di sekitar UNM setelah sehari sebelumnya diantar orang tuaku.

“Mi ndak belajar?” tanya Irma.
Dia memanggilku sebutan mi karena melihat aku memanggil mamaku dengan sebutan mami, jadi inginnya Irma diibaratkan anakku, hahaha…..
Aku sendiri kala itu memanggilnya dengan sebutan, mbak. Karena melihat dia dipanggil orang tuanya, mbak, hihihi…..
“Ndak mbak, aku kademen, sumpah ndak kuat aku,” jawabku dibalik selimut menggigil.
“Lha terus, kalo sampeyan ndak lulus ujian seleksi mahasiswa UB, piye?” tanyanya lagi heran.
“Ndak popo mbak, aku wes ndak gelem kuliah nang Malang, aku kuliah nang Suroboyo ae,” jawabku kecewa.

Memang sebelum kelulusan SMA aku dulu berangan-angan ingin melanjutkan studi S1 di Malang. Sangat cinta sekali dengan kota itu. Mungkin disana pernah aku didekatin masnya temanku (cewek), dia kuliah di UB Malang juga.
Masnya temanku naksir aku, tetapi karena aku adalah temannya adeknya, dia hanya menjadi teman dekatku tidak sampai pacaran.
Perasaanku waktu itu pada mas temanku, biasa saja, suka hanya sebatas menemaniku karena aku tidak mau kesepian. Biasalah yaa, anak remaja maunya jalan-jalan terus.

Terjadilah aku berambisi untuk melanjutkan kuliah di Malang, agar aku dekat dengan dia, UB.
Sedangkan dalam percakapanku dengan mas kandungku yang saat itu semester akhir jurusan teknik arsitektur UPN Veteran Surabaya selalu dengan ambisinya mempengaruhiku agar aku kuliah di UPNV Surabaya juga.
Dengan pertimbangan jika kita bisa kuliah bersama di Surabaya apalagi di kampus yang sama, tentu memudahkan orang tua yang ingin menjenguk anak-anaknya.
“Kuliah nang Suroboyo ae, dek!,” ucap mas Eka di depan papiku.
“Ndak, Malang pokok’ e,” elakku mantap.
“Wooo… iki…. Ben papi mami enak lho lek ate nang Suroboyo. Iso sambaing anak dua sekaligus, aku sama kamu,” yakin masku lagi.
“Nehik, Malang. Aku kuliah di Malang aja lho pap, pokoknya pengen Malang. Papi kan dulu kuliah di UB, aku pengen di UB juga pap,” ucapku tetap mengelak.
“Mosok papi ape riwa riwi Malang-Suroboyo, bingung saiki jatah e Eka opo Rani, saaken lho,” masku dengan menggebunya.
Betul, sering sekali papi melakukan perjalanan dinas ke Kota Pahlawan untuk rapat-rapat, sosialisasi, kunker, dan sebagainya.
Ya, memang orang tuaku tidak pernah memaksakan kehendak anak-anaknya, mereka hanya mengarahkan saja apa yang menjadi keinginan anak-anaknya.
“Wes Jon, Rani ben kuliah nang Malang,” ucap papi mengiyakanku, Jon sebutan papi pada masku, Eka Sarjono.
Mungkin waktu itu masku kesel juga kali yaa, karena keinginannya agar aku mengikuti kuliah di Surabaya, terelakkan. Hahaha….

Nah, balik ke bimbel, jadi selama aku bimbel di Malang setiap harinya gak pernah belajar. Uda aku niati, enggak lulus UB yo wes, ben. Hihihi….
“Mi, gak maghriban?. Ayo golek maem,” selesai Irma menunaikan sholat maghrib.
“Lho iyo mbak, maghriban, sek iki aku kademen. Ta sholat disek yaa, biz gitu kita cari maem,” jawabku layu.
Penuh perjuangan aku ambil wudlu di kamar mandi, maklum tiap sore aku tidak pernah mandi. Hanya gosok gigi dan bersih-bersih wajah. Irmapun memakluminya, setelah aku cerita tidak pernah mandi sore.
Mungkin daripada aku semakin hipotermia, mati kaku, akhirnya Irma angguk-angguk kepala memaklumi. Hehehe…..

Yup, selesai kami sholat maghrib berdua berjalan ke luar cari makan. Setelah pamitan ke ibu kos, kami melewati pinggiran jalan belakang kampus UNM.
Sampai di jalan utama depan Matos, secepat mungkin kami kembali berjalan balik melewati pinggiran jalan belakang kampus UNM.
Seandainya kalau aku tidak sakit kedinginan waktu itu, mungkin kami malah main-main aja tuh di Matos, waduuuhhh……

Perjalanan pulang beli makan, aku menuju arah kos bimbel, berlawanan arah sekitar 200 meter dua orang cowok, tinggi banget satunya tinggi standart cowok, agak menerka-nerka kami berempat.
“Lho mbak, iku Oscar mbek Dodik, ta?,” tanyaku.
“Lho iyo Mi, koyo’e Oscar-Dodik,” terka Irma juga.
Di arah berlawanan yang semakin dekat juga mereka menerka.
Maklum kami berempat asli Probolinggo tiba di kota tetangga tanpa ada saudara dan keluarga, tetiba ketemu di jalan berasa bahagia anak perantauan waktu itu.
“Heh, Yus!” sapa Oscar panggilan sahabat sejak SMPN 2, aku dipanggil Yustise oleh 8 orang sahabat.
Widji, Yatik, Wiwit, Puput, Oscar, Dodik, Dicky dan aku menamakan kami Star Love sebagai nama sahabat.
“Ya ampun Oscar Dodik, kita ketemu juga yaa disini, aku sakit Os,” ucapku girang bertemu dengannya.
“Kamu sakit apa, Yus?”, Tanya Oscar kaget.
“Kedinginan aku, Os,” sambil melihat penampilanku memakai jaket hitam pas body, celana tujuh per delapan, kaos kaki dan memakai sepatu sandal.
“Iyo iki mami ndak gelem sinau,” ucap Irma putus asa.
“Lho, ndak lulus kamu Yus engkok,” ucap Dodik tertawa-tawa.
“Ngekos ndek ndi?” Tanya Oscar serasa dia ingin mampir mengantarku balik.
“Kalian ndak cari makan ta?, itu kosanku ndek sana,” ucapku masih lumayan jauh dari kos bimbel ke jalan utama Matos.
“Ayo ta anterin,” ucap Oscar lagi.
Dengan senang hati kami balik menjadi berempat.
Sesampai di kos, Oscar dan Dodik duduk di pintu depan pagar garasi.
Aku dan Irma makan disana, sedang Oscar dan Dodik hanya minum.
Obrolan-obrolan kami tertuang kurang lebih dua jam, sampai mereka lupa mau beli makan juga.
Keduanya pun berpamitan. Makan malam yang telat, kami pun tertawa, hahaha……
Singkat cerita, Oscar kuliah di UB, Irma di UMM, Dodik STIE Perbanas Surabaya dan aku UPNV Surabaya.
Kesuksesan kami berjalan saat kami sudah melewati masa-masa pelajar, kini Oscar bekerja sebagai Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB Bidang Tata Kelola Sektor Publik, Dodik bekerja sebagai karyawan tetap Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kota Probolinggo dan Irma bekerja sebagai ASN di Disnakertrans Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

pernah suatu hari, saat aku pulang dari bimbel, dengan sedikit rasa cemburu, aku letakkan pada mbak iparku dulu yang masih menjadi pacar masku.
Ya, saat adeknya sakit kedinginan, kakakku menjenguk dengan pacarnya (sebelum pacaran dengan mbak ipar, aku lah mak comblang mereka). Dibelani  oleh masku perjalanan dari Surabaya hanya ingin waktunya untuk mbak ipar.
Kesannya masku seperti bersorak sorai melihat kondisiku, sakit kedinginan.
“Yok opo? Sek kepengen kuliah ndek kene (Malang) ta?,” tanyanya saat mampir di UNM.
Di parkiran motor aku dan Irma lelah usai melaksanakan bimbel hari pertama.
“Dewa sakit mas, ndak pernah sinau, ndak pernah mandi sore,” jawab Irma.
Sebutan saat aku di SMA berubah dari Dewi menjadi DEWA, ya karena aku fans berat DEWA.
“Aku kuliah nang Suroboyo, ae. Adem ndek sini, ndak kuat aku, enak Suroboyo panas podo mbek Probolinggo,” ucapku.
“Kandani kok, tambenng!!!” jawab masku mantap.
Sedang mbak ipar saat itu senyum-senyum dan tertawa-tawa.
Semakin pegel saja ini hati, mas datang tapi untuk pacarnya, bukan untuk adeknya. Padahal yang ngenalin mereka aku. Huh, sebel….. hahahhaa…..
Hari terakhir usai bimbel (lupa berapa hari aku bertahan di Malang untuk bimbel), langsung aku dan Irma dijemput Omku naik mobil berisi mbah Jum, Budhe Titin, Om Dedi. Mereka adalah ibu, kakak perempuan dan adek ipar mamiku.
“Iyo nduk lek ndak kuat di hawa dingin, kayak kamu, sakit,” mbah Jum membenarkan.
“Aku kuliah di Surabaya saja mbah,” ucapku.

Mulai detik itu, pikiranku berubah total. Aku mau kuliah di Surabaya.
Obrolan seusai bimbel pun terjadi (lagi).
Ya, usai lulus SMA aku seminggu pernah main di rumah bulek adek perempuan papi di daerah Buduran Sidoarjo. Selama seminggu di sana, aku menikmati suasana Sidoarjo. Diajak saudara sepupuku cowok, jalan-jalan ke sun city, GOR Delta, alun-alun, makan bakso di bawah jembatan layang Buduran, semua aku lewati tanpa ada halangan yang berarti. (baca: kedinginan) hahaha….
Aku merasakan udara Sidoarjo dan Surabaya cenderung sama seperti Kota Probolinggo, panas.
“Kuliah di UPN ae nduk, kumpul mbek mas Eka,” bulekku mengucapkan saat kami menikmati camilan sore.
“Dek Erik mo kuliah teng pundi, lek?” tanyaku.
Erik adalah anak kedua bulek Sri Bayatmi, seperti Ari Wibowo di keluarga besar kami mengibaratkan wajahnya. Memang Erik cowok ganteng, tinggi, tidak perokok, rajin sholat, baik, tapi pemalu. Erik seumuran denganku.
“Yo kalo ndak lulus SPMB, lek daftarkan nok UPN,” jelas bulekku.
“Aku mau kuliah sing kampuse akeh Chinese-chinese lek,” jawabku.
“Minta ke papimu, ndek Suroboyo onok Petra dan UBAYA, mbois iku nduk,” bulekku diamini anak perempuannya, adek Wiwit yang saat itu juga semester akhir jurusan sain biologi UNESA.
Singkat kata saat masku main dan melihat kondisiku di rumah bulek Buduran Sidoarjo bilang,
“Dek Rani iki kademen lek teng Malang pas ikut bimbel, dia pengen kuliah di Surabaya,” masku buka kartuku. Hahaha….
Semua warga serumah bulek ikut tertawa, tak terkecuali lek Gatot suami lek Bayat yang masih dinas di Angkatan Laut Surabaya.
“Iyo iki Rani pengen kuliah nang kampus Cino,” ujar lek Gatot.
“Neh aneh ae….. larang,” masku tertawa ngakak.
“Lho iyo ta, mahal ta??? Mosok seh???,” jawabku tidak yakin 1000%. Hahaha…..
Singkat cerita aku berkeinginan untuk kuliah di UK Petra atau UBAYA sesuai petunjuk bulek Bayat. Maklum tahun 2004 Thomas Cup waktu itu aku begitu ngefans dengan jagoan Cina, asal olahraga teplok bulu itu. Sebut saja ada ganda pria Fu Hai Feng dan Cay Yun, tunggal pria Lin Dan, Bao Cun Lai, tunggal wanita Xie Xing Fang, sampai akupun saat main bulu tangkis di depan rumahku, jalan gang (lapangan outdoor) teman-teman rumahku menyebutku Xie Xing Fang.

Sepulang dari rumah bulek Bayat di Buduran Sidoarjo, lagi-lagi obrolan kampus pun terjadi (lagi). “Pap, papi, aku kuliah di UK Petra atau UBAYA yaa pap,” ucapku semangat penuh optimis.
“UPN ae nduk, bareng sama mas Eka,” jawab papiku yang mendapat respon iya dari masku yang sedari ngobrol kampus dari pertama, kedua sampai ketiga kalinya selalu ada dia dan dia. Hahaha….
“Iya wes aku kuliah di UPN, pokok aku ndak mau sing ada hitung-hitungannya,” jawabku tetap semangat. Mengingat bakal kuliah di Malang, aku KO.
“Kamu iki aneh, ndi onok kuliah ndak onok itung-itungan e??? koncoku sing kuliah ndek komunikasi yo onok itung-itungan e,” jawab masku.
“Konco e sampeyan onok sing ndek komunikasi?, konco opo,? Tanyaku.
“KKN,” jawab masku singkat.
“Pap, papi, pokoknya aku ndak mau yang ada hitung-hitungan,” jelasku.
“Lha kamu SMA biyen yok opo? IPS lak itung-itungan seh? Ekonomi metrik, akuntansi, lak tung itungan iku?,” kata Masku yang berzodiac scorpio sama dengan aku itu.
“Pas aku SMA, lek ujian ekonomi, akuntansi yo q nyontek nang Irma,” jawabku menjelaskan Irma adalah teman sebangku saat kelas 3 SMA.
memang aku nyontek tapi gak semuanya lha yaaa.... intinya banyak nyonteknya, hahahaaa.....

“Sek yo ta telpon o Ina, arek komunikasi,” masku mulai beraksi.
Sembari menunggu masku telepon Ina, kami cukup mendengarkan.
“Jare Ina nok Komunikasi yo tetep onok itung-itungan e, tapi iku dasar, semester- semester selanjut e gak onok. Kan iku digawe hitung-hitungan e skripsi,” jelas masku.
“Yo wes Jon, ndang golekno brosur-brosur komunikasi, Jon,” ucap papiku yang mantap agar aku kuliah di jurusan komunikasi.
“Asssseeekkk…. Yo mau aku, komunikasi ae wes,” setujuku.
“Nah ngunu kan enak, ndak ngebet kuliah nang Malang garai papi mami bingung berkunjung anak-anak e,” sumringah masku.
“Wooooo……. Pancen kudu ngene, kademen disik, sakit, baru ndak gelem kuliah nang Malang,” ujarku disambut tertawa ngakak abang Bon Sak, julukan pebulu tangkis tunggal Tailand 2004 silam.
“Pancen neh aneh ae kamu,” tetap ngakak abang Bon Sak. Hihihihiiii…..
“Suroboyo, I’m cooooommmiiiinnngggg,” teriakku.

Senin, 28 Oktober 2019

ADEKKU DAN PERUNTUNGANNYA

Selisih usiaku dengan adek bungsuku ini terpaut jauh sekitar sembilan tahun. Tahun 2003 saat aku duduk dibangku SMA kelas 1, adekku waktu itu masih kelas 2 SD.
Walaupun selisih kami terpaut jauh, bisa dikatakan kami seperti kebanyakan anak-anak lainnya yang akrab dan super seru bermain bersama. Ingat betul bagaimana kami bertiga (aku dan kedua adekku) sama-sama pegang tongkat kalau bahasa jawanya, senggek berlari mencari buah ceri / ceres di rumah budheku dan tetanggaku.
Puasaan waktu itu memang cuacanya panas, sampai kedua adekku nggelimpang di teras rumah budhe. “Ayo tangi! Cerine sik akeh sing durung disenggek,” ajakku. Kejam banget sih.... kayak namanya mengeksploitasi anak kecil, hahahhaaa....
Sampai di rumah ceri-ceri yang kita dapatkan jumlahnya yang lumayan banyak hampir setengah kresek kecil itu (maklum tiap hari ceri kan memang berbuah terus ya, jadi jangan heran kalau tiap hari kita panen) hahahhaaaa..... akupun cuci dan masukkan dalam frezzer kulkas.
Tiba waktu bedug Maghrib setelah berbuka pakai nasi, akupun langsung nyomot ceri-ceri hasil senggekan aku dan kedua adekku sambil nonton Bajaj Bajuri dengan asyiknya.
Hmmmm.... rasanya tuh renyah, ceri-ceri kecil yang mengeras menjadi es aku makan dengan lahapnya.
“Le iin, gizgiz, kamu minta ta ini cerinya?,” tanyaku.
Mereka pada gak mau ceri alias kurang suka, jadilah aku semakin terpuaskan dengan menikmati ceri-ceri secara solo karir, hahahhahaaa...
Sambil lihat Bajaj Bajuri di Trans TV, memang berasa jodoh banget, dunia hanya milik “Aku dan Ceri-ceriku” wkwkwkwkkkkk...
Singkat cerita soal Pasukan Ceri memang tak kan ada selesai, semua belum terpaparkan disini karena aku berbagi bukan masalah ceri tapi berbagi kebahagiaan menjelang adek-adekku memulai peruntungannya.
Dimulai adek bungsuku, yang sebelumnya kerja sebagai PTT di Kementerian Kelautan Perikanan hanya hitungan 8 bulan saja, terhitung mulai Desember 2017 sampai dengan Juli 2018 adekku mengikuti tes pegawai tetap pada BPJS Ketenagakerjaan, melalui beberapa tahap tes yang dilalui adekku, akhirnya berbuah manis seperti ceri.
Adekku diterima juga dengan penempatan BPJSK di Makassar, enggak papa ya le, biarpun jauh2an dengan keluarga, do’a kami selalu menyertaimu. Kamu masih muda, mudah2an semangat dan jiwa mudamu terukir baik dengan karier dan karyamu, seperti Pasukan Ceri Jaman Old, hahaha….
Selamat2…. Semoga berkah ya le, aamiin YRA, seperti juga semangat Hari Sumpah Pemuda ini.
Selalu semangat!!!

Kamis, 11 Oktober 2018

USAHA TAK AKAN MENGKHIANATI HASIL


Memang benar pepatah mengatakan, usaha tak akan mengkhianati hasil sekitar 5 tahun yang lalu aku berikhtiar mendampingi suami yang saat itu belajar guna mengikuti tes CPNS pada BNN RI.
Pendampingan aku lakukan mulai dari pendaftaran, belajar sampai dengan tes tahap I (BKN Waru Sidoarjo) dan tes tahap II (BNN RI Cawang Jakarta).

Banyak temanku yang menanyakan bagaimana suamiku bisa berhasil dan diterima sebagai PNS BNN RI. Akupun selalu bergumam, “Ayo tak sosialisasikan ae gimana ceritanya dari awal sampai akhir, biar aku enggak cerita (lagi) satu per satu pada tiap orang yang berbeda, yang menanyaiku,” jelasku.
Teman-temankupun tertawa terbahak-bahak, “Ayo wes Non, ceritain talah,” bujuk teman sekantorku ibu Bhayangkari Polresta Probolinggo 5 tahun silam.

Biarlah cerita ini hanya ada dalam doa dan anganku saja, semua adalah nyata keajaiban Tuhan Yang Maha Esa pada umatNya yang senantiasa selalu berdoa, berusaha yakin akan kuasaNya.

Nah, bagi teman-teman yang mau ikutan tes CPNS untuk tahun ini, semangat ya!
Jangan menyerah, terus berdoa, berusaha, yakin deh semuanya pasrahkan pada TuhanMu.
Saya sihh yesss gitu.... xixixixiiii.....
Semangat!!!

Selasa, 09 Oktober 2018

POSISI MELINTANG, LAHIRKAN SECARA NORMAL



Masih di kamar UGD, perawat ambil tindakan periksa perutku, dinyatakan bahwa posisi bayi adalah melintang. “Ci, tulung jupukno Hpku nok dalam tasku Ci,” pintaku. Sesegera Sonea memberikan HP itu ke aku. “Halo Pi, mi sekarang ada di RSUD. Td ketuban mi pecah di mushola kantor, ini mi diantar ebes emes n Pak Sitrin,” sapaku ke suamiku saat itu masih di Lumajang.
Kaget juga suamiku tiba-tiba aku telepon mendengar bahwa ketuban pecah dan aku sekarang di RSUD. Tanpa pikir panjang diseberang sana suami hanya menjawab, “Oalah Mi... yok opo seh kok isu ngunu?, iyo iki pi tak langsung pulang,”.

Langsung saja hari itu pukul 4 suami pulang tanpa mampir ke kosannya dulu untuk mengambil baju-baju kotor melakukan perjalanan menuju RSUD dalam keadaan panik juga.
Perawat melakukan suntik pencegah agar ketuban tidak merembes secara terus menerus dilakukan sekali saat di UGD. “Ci, aku pamit pulang sik ya, kamu yang kuat ya Ci, yakin ya Ci, kamu pasti bisa!” pamit Sonea.

“Iyo Ci, suwun yo wes melu nganter aku. Doain aku yo Ci, aku wedi di operasi (caesar, red),” sedihku. “Iyo Ci tak doain mugo-mugo kamu lahiran normal ya...,” doa Nea. Dan Pak Sitrin pamit juga pulang bareng Nea.

Tinggalah aku sendiri masih kondisi mulut terus komat-kamit bersholawat, terkadang masih ada dalam benakku kekhawatiran aku bakal di caesar.

“Berdoa terus, yakin ndak caesar yo,” mamiku memberikan semangatnya.
Pukul 5 sore akupun dipindah ke ruangan persalinan. Disana hanya ada mamiku yang senantiasa menemaniku, mulai dari lahiran anak pertama sampai keduapun dengan setianya beliau selalu ada dismapingku.

Hampir maghrib papiku datang bersama anak sulungku, Kayla. “Embak, embak kok ikut Nak, besok imunisasi di sekolahan ya mbak.... gak boleh nangis ya,” khawatirku padanya. Karena urusan sekolahnya semuanya masih aku yang cepak-cepakkin. Jadi wajar saja kalo misalkan saat ini aku yang terbaring di kasur hanya bisa membayangkannya imunisasi tanpa aku.
“Adek kok ikut ke rumah sakit dek. Di Rumah sakit itu banyak kuman dan bibit-bibit penyakit,” jelas perawat. Dan mau tidak mau yang ketemu si sulung sebentar saja diapun di antar pulang kembali oleh papiku.

“Assalamu’alaikum,” sapa suamiku dibalik pintu sambil masuk ke dalam kamar persalinan. Suami pun membawa beberapa pakaian ganti, peralatan mandi, beberapa baju bayi, dsb, yang sore itu tidak sempat aku bawa kendati pecah ketuban di mushola kantor.

Ditemani suami dan mami sepanjang malam sampai pukul 22.00 WIB suami pamit pulang, karena mobilnya parkir di halaman sisi utara RSUD, harus segera dipindah ke tempat yang lebih aman, jukir sudah pulang juga kalau malam batasnya adalah pukul 20.00 atau 8 jam.

“Gak papa sampeyan pulang dulu mas, biar saya aja yang jaga. Gantian biar besok bisa datang lagi,”. saran mamiku.
Mamikupun akhirnya aku suruh tidur waktu itu pukul 23.00 WIB. Sementara aku yang terbaring di ranjang, masih belum percaya bahwa ketubanku masih saja merembes sedikit-sedikit, kiranya suster sudah memberikan suntikan anti rembes ketuban. 

Diagnosa sementara adalah memulihkan kondisi ketuban yang telah keluar sebelum waktu lahiran, dengan menginjeksi suntikan antibiotik, hasil akhirnya adalah besok pagi dokter akan melakukan observasi jika hasil observasi memungkinkan menunda kelahiran sampai bulan depan.
Begitulah penjelasan dokter kandungan yang menangani atas saran Pak Sitrin (lagi), dr. Slamet, SpOg yang merupakan dokter senior memiliki segudang pengalaman tentunya.

Sekitar pukul 00.15 WIB mamiku bangun dan menanyakan kondisiku saat itu bagaimana. “Piye, sik merembes ketubane?,” tanya mami.

Ndak mam, tapi ini aku kok sakit banget kaya pembukaan ta mam?,” tanyaku.
Dan mamiku iji untuk menunaikan shalat tahajud pada jam itu. Selesai shalat tahajud, mami mendekatiku yang memang aku menahan rasa sakit meskipun sedikit sering rasa itu datang.
Mules ilang-mules ilang begitulah kondisiku waktu itu.

Sementara grup WA kantor pada menyemangati agar aku kuat, agar aku bisa bertahan, meskipun kondisi bayi melintang.

Memang kondisi bayi melintang itulah membuat aku merasakan kekhawatiran lahiran secara caesar. Selalu aku aku doa dan mengusapkannya ke perut sambil berbisik pada jabang bayi, “Dek, muter ya dek, pinter ya Nak, mami takut operasi, dek,” doaku.

Rasa mual-ilang itu semakin kerap kali ini, yang tadinya hanya 1 jaman datang tidak waktu itu menunjukkan sekitar pukul 02.00 WIB.

Hingga akhirnya aku tidak kuat juga, mamiku sesegera mungkin memanggil suster yang tertidur pulas di ruangannya, beberapa kamar persalinanku.

“Sus, sus, pasien Dewi kok sepertinya mau lahiran, ya,?” bangun mamiku pada suster rumah sakit yang memang enak terlelap dikeheningan malam waktu itu.
Tak berapa lama, sejaman, lahir bayi lucu nan ganteng. Aku dan suami beri nama Kavin Fawwaz Diandra Putra, yang artinya kurang lebih seperti ini Anak Lelaku Wahyudi dan Rani yang berparas ganteng.

Lahiran normal tidak operasi adalah wujud kesabaran selama ini, posisi melintang sampai dengan kembali pada posisi normal adalah sebuah keajaibanNya.


Minggu, 23 September 2018

PANIK KETUBAN PECAH SEBELUM ESTIMASI LAHIRAN. LUPA NAMA TEMAN, HINGGA PICK UP NGAMBEK TAK BISA DI STATER.


Pecah ketuban di Mushola kantorku, pada 28 September 2017 sekitar pukul 2 siang lebih menginjak waktu sore, membuat aku panik. Aku pikir cairan yang keluar banyak itu darah, nyatanya bukan. Cairan putih itu adalah air ketuban.

Air ketuban adalah cairan yang melindungi dan menopang saat janin tumbuh di dalam rahim. Di antaranya untuk melindungi janin dari benturan, membantu perkembangan tungkai, otot, paru-paru, dan sistem pencernaan janin. Air ketuban terletak di dalam kantung ketuban. (Sumber : https://www.google.com/search?q=air+ketuban+adalah&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab).

Karena aku kepayahan setelah menyelesaikan administrasi kegiatan workshop PT. Indosat yang digelar sehari sebelumnya, akupun tertidur pulas di Mushola kantor dengan masih mengenakan mukena, setelah selesai menunaikan shalat dhuhur. 

Kondisi hamil besar, membuatku cepat merasakan keletihan. Hal ini membuat teman-temanku memakluminya. Hingga tibalah giliran Carolina membangunkanku, “Dew, Dewik geseran Dew!,” pintanya. Akupun bangun dan mulai bergeser mendekati dinding ruang kabidku. “Sik yo Lin pelan-pelan, abot,” ucapku.

Belum satu menit aku bergeser, tiba-tiba saja “Tus” seperti balon yang ditusuk jarum keluarlah air ketuban itu, banyak sekali. Spontan saja aku berdiri dan memamnggil nama temanku yang baru saja selesai shalat dhuhur. “Lin, Lina, iki opo Lin?,” tanyaku panik. “Opone Dew, endi,” Tanya Lina Balik.
“Iki lho lin, abang (merah, red) ta....?, iki metu akeh lin,” lanjutku yang semakin panik. “Endi Dew, gak ono warna e iku....,” jelas Lina.
“Oalah iki ketuban berarti Lin, ketubanku pecah Lin,” kaget aku. Selanjutnya aku memanggil Lina yang sejatinya hanya ada dia saja, kami berdua di Mushola kupanggil-panggil namanya, tapi aku lupa nama dia “CAROLINA” hahaha....
“Sopo jenengmu?? Jenengmu sopo???,” Tanyaku berulang. Lina pun ikut panik, “Kenopo Dew??,” masih ikut panik juga dia, hahahahaaa...
“Jenengmu iku sopo??,” tanyaku sambil agak marah. “Lina, Dew, aku Lina,” teriak Lina, wkwkkwkwkkkk....
Langsung aku agak teriak juga, “Ya ampun lin, aku sampek lali jenengmu, iki lho Lin ketubanku pecah!,” masih tidak percaya dengan kondisiku waktu itu kenapa sampai pecah ketuban di saat kehamilanku masih berusia 8 bulan.

Akupun dituntun Carolina menuju tempat duduk meja kerjaku. Serentak kabar pecah ketubanku langsung terdengar teman-teman kantor.

Mereka mendatangi tempat dudukku. Dibalik mejaku, aku langsung menangis. Perasaan takut, cemas, panik, bingung, semuanya mengahantuiku sepanjang aku menenangkan diri. Tapi bukannya malah tenang, yang ada semakin dan semakin bingung.

“Iyo Dik digawe lungguh ae, anakku telu-telune yo ketuban e pecah disik sebelum lahiran. Gak oleh mondar mandir, wedine banyune metu terus,” Saran Bu Evi Kasi Pelayanan Informasi mendekatiku.
Dan anehnya hari itu seperti hari-hari biasa waktu menginjak sore, kondisi kantor sepi. Yang biasanya Edwin Bendahara Pengeluaran membawa mobil, hari itu tidak. Pak Sitrin Kabidku yang membawa mobilpun, tidak juga membawa hari itu.

“Mbak Dew, iku onok mobil pick-up, tak terno nang RSUD yo,” tawar Edwin. Memang di kantorku ada mobil operasional barang-barang apabila ada giat kantor yang membawa soundsystem, meja kursi, dsb. 

“Ndak Ko, aku adoh-adohan mbek bojoku, aku pengen diterno wong tuoku ae,” tolakku. Aku dan teman-teman memang memanggilnya Koko, sebutan pemilik toko ATK, chinese. Hahaha....
Kejadian aneh pick up yang distater tapi tidak bisa pun, seolah memang takdirnya aku harus diantar orang tuaku. Memang akupun menolak jika harus diantar mobil pick up, atau mobil sekretaris dinas yang parkir di halaman kantor.

“Pap, papi, ketubanku pecah pap,” segera aku menelepon papiku. “Opo nduk? Ban e pecah?, iyo engkok disusul Indra yo nduk” jawab papiku yang baru bangun tidur dari istrirahat siang jam setengah 3 sore. Aku masih tidak sadar kalo papiku menjawab ban pecah, tapi aku tanda tanya kenapa dijemput Indra....
 “Iya pap, ketubanku pecah, gimana ya pap??,” tanyaku lagi. “Lhoooo... ketuban pecah??? Iyo nduk, Bapak sama Mama maringene nang kantormu,”.

Cepat banget aku langsung dijemput orang tuaku, hitungan 10 menit mereka langsung sampai menjemputku, yang sedari aku tutup telepon langsung duduk di kursi ruang tamu kantor dibantu banyak teman-teman yang masih tersisa di kantor. 

“Langsung kita ke RSUD ya pak,” ajak Pak Sitrin ngobrol dan salaman dengan orang tuaku.
Pak Sitrin adalah Kepala Bidangku, Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Beliau yang meyakinkanku untuk lahiran anak kedua di RSUD. Sebelumnya aku menginginkan lahiran di bidan, ditolaknya secara halus dengan memberikan keyakinan bahwa RSUD pelayanannya sudah jauh lebih baik daripada Tahun 2012 aku melahirkan anak pertama. 

Di dalam mobil, turut Sonea teman Prahum terus menggenggam tanganku selama perjalanan menuju RSUD. “Sabar ya Ci, terus bersholawat Ci,” ingat Nea kala itu. “Iyo Ci,” terus saja aku menangis.
“Iki mbak Nea penyiar Suara Kota itu ya?,” tanya mamiku. “Enggeh bu,” senyum Nea.
Kira-kira perjalanan hanya 1 km itu diselimurkan dengan obrolan mamiku dan Sonea, sementara aku hanya mampu bersholawat terus dan terus.

Sesampai di RSUD dr. Moch. Saleh, satu-satunya rumah sakit pemerintah yang beralamatkan di Jalan Panjaitan itu, bergegas aku di sambut ranjang roda oleh beberapa perawat RSUD.
“Langsung ke UGD ya,” tindakan perawat itu dengan cepat.
Pasang gelang pasien, buka celana hamil hitam, pasang infus, ambil sampel darah, tensi tekanan darah, semua tindakan itu begitu cepat.
Bolak balik kedua orang tuaku diikuti Pak Sitrin amping-amping pintu kamar UGD, sesekali aku melihat mereka ngobrol bersama.

Sementara di dalam kamar UGD aku ditemani Sonea, sambil foto-foto tanganku yang sudah terpasang gelang pasien dan ternyata di upload juga di WA grup kantor, WA grup Prahum kota dan Facebook olehnya, hahahaaa...
Masih aja ya mikir up to date, temannya lagi merasakan ketakutan dan kepanikan mendalam sambil terus agak nahan tangis dan kegelisahan dalam hatiku, “aku enggak mau di opearasi caesar!”.